terkini

Iklan

Apakah Sudah Tepat Jadi Solusi

Lidinews
Kamis, 12/16/2021 09:50:00 PM WIB Last Updated 2022-04-15T19:51:35Z
Penulis: Herman Syukur Zai


Refleksi Dua Bulan PKBM RBAC Gunung Sitoli
"Apakah Sudah Tepat Jadi Solusi?"

Pandemi Covid-19 yang tidak pernah jelas kapan akan berakhir, benar-benar telah meluluhlantahkan dan mematikan berbagai sendi kehidupan di segala sektor/bidang. Tak pandang bulu, dunia pendidikan pun juga digrasak-grusuk oleh ganasnya Covid-19 ini.

Melihat kondisi dan situasi ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi) menerapkan kebijakan pendidikan via daring dengan mengutamakan kesehatan maupun keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, keluarga, dan masyarakat secara umum. Karena bagaimanapun, kebijakan pendidikan harus selalu mempertimbangkan aspek proses kegiatan belajar mengajar untuk tetap aktif, tumbuh kembang peserta didik dan kondisi phsyco-sosial dalam memenuhi layanan pendidikan selama masa pandemi. 


Namun, kebijakan pemerintah agar tetap beroperasi kegiatan belajar mengajar di sekolah melalui via daring, ternyata tak manjur untuk mengefektifkan kebijakan pendidikan. Berbagai riuh keluh-kesah terdengar di mana-mana. Siswa mengeluhkan alat-alat belajar yang memadai, seperti HP/komputer, kuota internet, jaringan yang kurang stabil, perekonomian merosot, terbatasnya waktu untuk belajar, dan lain sebagainya.


Hal itu, menjadi pemicu dan dorongan kuat untuk menciptakan metode dan inovasi yang solutif, agar dunia pendidikan tak mengalami kemunduran dan mandek. 



Tak ayal, Rumah Belajar (RB) menjadi pilihan dan jawaban tepat untuk menjaga keberlangsungan pembelajaran tersebut. Dengan Rumah Belajar, belajar bisa dimana saja, kapan saja dan dengan siapa saja, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat dan siswa yang dibatasi dan dibagi dalam jumlah segmen belajar.


Melihat kondisi dan situasi ini, turut tergerak hati berpeka intelektual, beberapa mahasiswa dan pemuda tergerak hatinya, menciptakan terobosan baru, menjadi garda terdepan untuk terus menyokong efektivitas dan kelancaran proses belajar mengajar, walaupun dalam situasi yang terbatas. 

Melalui hasil olah pikir bersama, pertimbangan yang matang, dan harapan yang berapi-api, timbullah pemikiran untuk mendirikan Rumah Belajar untuk diikhtiarkan sebagai ruang untuk memberikan pelayanan belajar yang terintegrasi dengan mata pelajaran yang relevan dan utama kepada anak-anak yang terkendala mengenyam pendidikan karena berbagai hal, utamanya Covid-19 yang menggerogoti habis keuangan, batasan yang ketat, dan kesehatan yang harus terus dijaga. Inovasi rumah belajar didesain serupa mungkin layaknya sekolah formal, agar tercipta kenyamanan belajar dan hasil yang memuaskan.

Wadah ini dapat diakses pendidik dan peserta didik, mulai dari jenjang PAUD dan SD Sederajat. Pada konteks ini, sesungguhnya Rumah Belajar berperan sebagai enabler atau perangkat yang memungkinkan terjadinya proses pembelajaran yang efektif dan efisien serta menyenangkan. Peran pendidik dalam proses pembelajaran yang mengintegrasikan TIK, kearifan lokal setempat, dan kebutuhan anak menjadi hal yang ditekankan dalam terlaksananya pembelajaran yang adaptatif dan maju. 


Itulah, melalui kajian dan kesepakatan pikiran dan komitmen bersama, akhirnya dibukakan cabang PKBM RBAC ini di Kota Gunungsitoli. Singkat cerita, PKBM RBAC ini terbentuk dan berpusat di Medan, kemudian terbentuk cabang di beberapa daerah se-Indonesia, ada di Sumatera Utara, seperti Nias Barat, Gunungsitoli, Nias Selatan, dan beberapa daerah lainnya, bahkan rencana di NTT sana. 

Dua bulan lebih, tepat pada tanggal 12 Oktober 2021, PKBM RBAC berhasil didirikan cabangnya di Gunungsitoli. Antusias Pengurus, Relawan Pengajar, peserta didik, dan masyarakat setempat sangatlah tinggi. Hal itu dibuktikan dengan gelontornya mereka mengizinkan dan menyuruh anak-anaknya untuk belajar. Bahkanpun tak jarang, ada beberapa orangtua yang di setiap jadwal kegiatan belajar mengajar, juga turut ke lokasi untuk mengantarkan hingga menemani sang buah hatinya. 


Lebih lanjut, PKBM RBAC Gusit ini beroperasi dengan tidak memungut biaya apapun. Benar-benar gratis diberikan kepada peserta didik, untuk lebih memacu dan memberikan kesempatan untuk belajar ke mereka. 

PKBM RBAC memiliki akronim, yaitu Pusat Kegiatan Belajar Mengajar Rumah Belajar Anak Ceria. Mengapa disebut Rumah Belajar Anak Ceria? Karena visi, tujuan, dan tuntutan dari PKBM RBAC ini adalah untuk mengembalikan keceriaan anak-anak untuk belajar yang selama ini murung akibat pandemi dan keterbatasan finansial, dan berbagai kendala lainnya. 


Dua bulan lebih berdiri, penamaan rumah belajar ini sudah mulai tak asing lagi di dengar. Apalagi RBAC Gusit ini juga tak kalah cakap untuk mengandalkan ruang-ruang digital untuk memposting kegiatan belajar mengajarnya, dan hal lain yang menyangkut tentang PKBM RBAC ini. Mulut ke mulut, sana-sini bercerita tentang rumah belajar ini, apalagi ditambah bumbu dengan kata gratisnya, lebih terdengar kencang juga ke telinga orang tentang keberadaan rumah belajar ini.


Dan testimoni akhir pun menunjukkan adanya peningkatan signifikan peserta didik dalam bidang membaca, menulis, berbicara, mendengar, berekspresi dengan talenta masing-masing, dan masih banyak lagi minat yang digelutinya, yang sejak perdana awal mulai buka benar-benar banyak penurunan kemampuan siswa. Dari hasil analisis, itu juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik itu internal dan eksternal, dan Pandemi Covid-19 ini juga salah satu faktor utamanya. Namun, perlahan berangsur membaik dengan kehadiran RBAC Gusit ini, dan juga hasil kerja keras Relawan Pengajar (volunteer).


Kiranya dengan kehadiran PKBM RBAC Gusit ini benar-benar memberi wahana baru untuk mengejar ketertinggalan peserta didik dalam  belajar, menjadi ruang terbuka untuk mematangkan jiwa prestatif dan mental yang kuat, dan terlebih dalam pembentukan karakter (character building) demi menyongsong umur emas 100 tahun Indonesia di tahun 2045. Merdeka!

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Apakah Sudah Tepat Jadi Solusi

Iklan