terkini

Iklan Podcast

Review Buku - Perempuan Di Titik Nol

Lidinews
Minggu, 9/10/2023 06:56:00 AM WIB Last Updated 2023-09-09T23:56:00Z
Ganbar : Review Buku - Perempuan Di Titik Nol. Lidinews.id


Saya bukan pelacur. Tapi sejak semula, ayah, paman, suami saya, mereka semua mengajarkan untuk menjadi dewasa sebagai seorang pelacur


Lidinews.id - Negeri Arab yang dikenal dengan kondisi perempuan yang amat terbelakang menghadirkan sejuta cerita mengenai perempuan korban budaya patriarki.


Nawal El Saadawi seorang doktor berkebangsaan Mesir menghadirkan sebuah novel yang menunjukkan perjuangan perempuan Mesir untuk merebut kedudukan dan hak-hak yang sama dan untuk mendapatkan perubahan nilai dan sikap laki-laki Mesir terhadap perempuan yang sepenuhnya belum tercapai.


Lewat tokoh Firdaus, Nawal menguak sebuah alur cerita yang sangat pedas, keras, dan berani yang mengandung jeritan pedih, protes terhadap perlakuan tidak adil terhadap perempuan yang diderita, dirasakan, dan dilihat oleh perempuan itu sendiri.


Perempuan di Titik Nol merupakan novel yang menghadirkan figur perempuan yang mengalami ketidakadilan dalam budaya patriarki. Ia adalah seorang perempuan yang diciptakan oleh masyarakat yang sangat laki-laki menjadi makhluk kelas kedua yang berarti inferior.


Perempuan di Titik Nol menceritakan liku-liku kehidupan Firdaus, perempuan muda yang menjadi pelacur kelas atas di Kairo, Mesir. Mula-mula, Firdaus dibesarkan di keluarga miskin buta huruf. Sejak kecil, dia mendapatkan ragam diskriminasi hanya karena jenis kelaminnya perempuan.


Ketika tinggal bersama pamannya yang termasuk golongan terpelajar, dia kembali bertubi memperoleh diskriminasi serupa. Istri paman malahan membenarkan diskriminasi terhadap perempuan, di antaranya memukuli perempuan yang dianggap membangkang suami, dengan keyakinan memang sudah mestinya seperti itu. "Agama" membenarkan perbuatan tersebut.


Dalam budaya patriarki seorang perempuan dianggap sebagai makhluk nomor dua atau yang disebut liyan oleh Simone De Beauvoir.


Konstruksi masyarakat yang menganggap bahwa wilayah perempuan adalah pada arena domestik menciptakan suatu hubungan yang terdominasi dan tersubordinasi, hubungan antara perempuan dan laki-laki bersifat hierarkis, yakni laki-laki berada pada kedudukan yang dominan sedangkan perempuan subordinat (laki-laki menentukan, perempuan ditentukan).


Dalam budaya patriarki, sisi laki-laki yang sangat dominan menciptakan identitas perempuan menjadi makhluk kelas dua.


Akibat budaya patriarki ini sejak kecil Firdaus kerapa kali mengalami tindak kekerasan dan sewenang-wenang dari laki-laki.


Ayah Firdaus adalah sosok yang ditakuti dalam keluarganya. Sebagaimana dalam budaya patriarki, ayah mempunyai peranan dominan dalam keluarga.


Tak jarang Firdaus mendapatkan kekerasan dari ayahnya yang membiarkannya lapar dan membasuh kaki ayahnya apabila sedang kedinginan.


Ayahnya pula yang menciptakan identitas Firdaus sebagai pelayan rumah tangga pengganti ibunya.


Pelecehan seksual kerap kali didapatkan oleh Firdaus dari pamannya sejak kecil. “Saya melihat tangan paman saya bergerak-gerak dibalik buku yang sedang Ia baca menyentuh kaki saya. Saat berikutnya saya merasakan tangan itu menjelajahi paha saya.”(Nawal El Saadawi 2002, h. 20).


Perlakuan inilah yang nantinya membentuk identitas Firdaus menjadi perempuan lacur. Ketika Firdaus memasuki usia remaja, ia dinikahkan oleh pamannya kepada seorang laki-laki bernama Syekh Mahmoud seorang laki-laki tua yang berperangai kasar dan kikir.


Firdaus ditukar dengan mahar yang sangat mahal.  Dalam rumah tangganya tidak jarang Firdaus mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya karena dia adalah seorang istri dan seorang perempuan.


“Pada suatu peristiwa ia memukul badan saya dengan sepatunya. Muka dan badan saya menjadi bengkak dan memar. Lalu saya pergi dari rumah dan pergi ke rumah paman.”(Nawal El Saadawi 2002, h. 63).


Identitas Firdaus sebagai seorang perempuan yang dianggap sebagai makhluk kelas dua membuat Firdaus pasrah menerima perlakuan kekerasan dari suaminya. Di tengah-tengah budaya patriarki kejadian tersebut dianggap lumrah, ketika seorang suami memukul istri.


Bahkan pamannya berkata bahwa ia juga sering memukul istrinya. Kewajiban seorang istri ialah kepatuhan yang sempurna.


Pengalaman demi pengalaman yang dialami oleh Firdaus sejak kecil memberikan pelajaran kepada Firdaus bahwa identitasnya sebagai seorang perempuan hanyalah dijadikan sebagai objek yang dapat ditindas dan diperlakukan sewenang-wenang.


Perlakuan sewenang-wenang yang diterima Firdaus mengajarkan bahwa ia juga pantas menerima sebuah kebebasan, tanpa kontrol dan siksaan dari laki-laki. Firdaus semakin lama semakin kritis mendapati diskriminasi terhadap kaum wanita.


Untuk itu, dia gigih belajar, dengan pikiran, pendidikan tinggi akan mengubah nasib kaumnya. Kenyataannya, dia mendapat banyak rintangan guna menggapai keinginan tersebut.


Firdaus sampai kepada kesimpulan, bahwa perempuan dipandang laki-laki tak ubahnya segumpal daging untuk dinikmati dan diperbudak.


Untuk itu, tidak dibutuhkan kecerdasan. Demikianlah. Firdaus dijerumuskan oleh lingkungannya, menjadi pelacur. Dengan kegigihan dan kekeraskepalaan, Firdaus melejit menjadi pelacur kelas atas. Pelanggannya adalah politikus, diplomat, dan orang-orang berkuasa.


Dalam mencapai kesusksesan menjadi pelacur yang bebas tersebut, Firdaus sampai pada permenungan bahwa peran laki-laki dalam budaya patriarki mempunyai peran besar membentuk tubuhnya menjadi pelacur.


“Saya tahu bahwa profesi saya diciptakan oleh seorang laki-laki. Karena saya seorang yang cerdas, saya lebih menyukai menjadi seorang pelacur yang bebas daripada menjadi seorang istri yang diperbudak.” (Nawal El Saadawi 2002, h. 133).


Melalui novel ini, Nawal el Saadawi mencoba membuka pikiran pembaca akan kepincangan dan ketidakadilan dalam dunia patriarki.


Saadawi mengajak pembaca untuk memikirkan dengan serius berbagai kezaliman yang masih menimpa perempuan di belahan dunia manapun akibat dominasi dan ketidakpedulian laki-laki.






Editor : Arjuna H T M

Review By Susi Sipayung





Review Buku - Perempuan Di Titik Nol

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Review Buku - Perempuan Di Titik Nol

Iklan