terkini

Iklan Podcast

Menghilangkan Arogansi Kekuasaan Di Lembaga Sekolah! Begini Caranya

Lidinews
Jumat, 1/31/2020 03:28:00 AM WIB Last Updated 2023-02-11T03:57:16Z


Sumenep, LIDINEWS.COM - Sekolah adalah “Kawah Candradimuka” tempat mencetak generasi muda bangsa agar berilmu dan beradap. Maka dari itu, aura pendidikan di sekolah harus benar-benar positif sehingga siswa mampu menyerap ilmu pengetahuan dengan nyaman dan tenang. 

Horizon harapan ini hanya bisa dicapai jika segala anasir sekolah berada di dalam zona nyaman. Karena hanya dengan kondisi psikologi semacam ini, sinergi tetap terbangun dengan baik untuk saling merangkul membawa anak didik menjadi output pendidikan yang bermutu.

Sayang problematika arogansi kekuasaan di lembaga sekolah masih menjadi momok laten yang membuat situasi dan kondisi lembaga menjadi tidak kondusif. Bahkan konflik internal lembaga adalah kenisbian yang tidak terhindarkan.
Konflik-konflik akibat arogansi kepemimpinan semacam ini seharusnya tidak terjadi lagi di sekolah. Bahkan bukan lagi masanya terjadi dis-komunikasi bahkan “perang urat saraf” antar unsur pendidik semata karena persoalan-persoalan pribadi yang berujung pada sentimen tidak berkesudahan.

Oleh sebab itu, berikut beberapa langkah yang seharusnya dilakukan oleh segala pihak untuk mencegah terjadinya arogansi kekuasaan di sekolah:
1. Utamakan Regulasi Daripada Penghakiman Verbal
Tidak dimungkiri di dalam sebuah organisasi pasti terjadi berbagai pelanggaran baik skala ringan maupun berat. Terutama di dalam lingkungan sekolah. Efeknya yang terparah adalah membuat sistem pembelajaran terganggu atau bahkan menimbulkan konflik antar unsur sekolah. 

Jika ini yang terjadi seharusnya pihak pemangku kebijakan mengutamakan regulasi dalam menerapkan punishment atas pelanggaran “anak buahnya”. Bukan justru menghakimi secara verbal yang bisa membuat konflik semakin kronis. 

2. Memanusiakan Manusia
Sebagai pemangku kebijakan harus memiliki pengetahuan mumpuni terkait keunikan semua unsur sekolah yang notabene berada di bawah binaannya. Sehingga ia mampu merangkul mereka dalam keragaman dengan mencoba mencari persamaan yang bisa mencegah  terjadinya konflik baik ketika mereka di sekolah maupun ketika berada di lingkungan non sekolah. 

Maka dari itu, sebisa mungkin jangan menyinggung persoalan spiritual, budaya dan tradisi yang mengikuti gerak nafas para pendidik yang tidak sertamerta bisa mereka tinggalkan begitu saja demi lembaga. Ya karena sekalipun mereka berada di sekolah, mereka tetap milik budayanya, milik agamanya dan milik tradisinya. 
Justru ketika unsur sekolah merasa aman di dalam diskursus tersebut maka secara logika sederhana mereka juga lebih nyaman untuk bisa mengimplementasikan idealisme sebagai pendidik sebagaimana mestinya.

3. Membuka Ruang Diskusi Seluas-Luasnya
Di dalam sebuah lembaga, problematika berkelindan sepanjang lembaga tersebut masih tegak berdiri. Tak urung ini juga menjadi barometer sejauh mana idealisme para penghuninya (red, Pendidik) bisa melewati permasalahan tersebut dengan baik. 
Terkadang arogansi dibutuhkan untuk mempertahankan kebijakan yang sudah menjadi keputusan bersama. Namun pertanyaannya sudahkah dibuka ruang diskusi bahkan “pertengkaran dialektika” untuk sampai pada ruang tersebut?
Maka dari itu, buka diskusi seluas-luasnya untuk menampung aspirasi semua unsur pendidikan. Karena terkadang solusi itu lahir dari otak-otak yang mau berbicara jujur tanpa bayang-bayang ketakutan dan arogansi.

4. Kelola Lembaga Dengan Sistem Manajemen Bukan Kekeluargaan
Lembaga sekolah adalah sebuah organisasi yang dibangun atas dasar sistem manajemen bukan kekeluargaan. Maka dari itu, patokan etis di dalam organisasi bukan senioritas layaknya “ayah ibu” dalam keluarga yang sewajarnya mengatur yang kecil tanpa mau diatur si kecil.

Ya lembaga dibesarkan oleh prestasi dan kemampuan. Siapa yang memiliki prestisiutas lebih baik maka dijaga. Sedangkan yang sedang merangkak ke podium harus didorong dan di motivasi agar memiliki spirit bersaing yang tinggi. 
Karena hanya dengan prestasi mimpi mencetak generasi muda bangsa yang intelek dan beradap bisa menjadi kenyataan. Maka dari itu atas nama siswa biarkan para unsur pendidikan saling membangun di suasana pertarungan pemikiran yang nyaman dan damai.

Anda sebagai pemangku kebijakan tinggal membuka tirainya ketika evaluasi kinerja untuk menentukan siapa yang layak dijaga dan siapa yang layak di suport untuk segera menjadi pemenang.

Jika semua narasi di atas diterapkan, tentu tidak ada lagi diskursus arogansi kekuasaan di lembaga sekolah. Konflik atas dasar sentimentalia antar personal pun bisa dicegah. Jika fenomena ini yang terjadi, bolehlah berteriak lantang ”Sekolah Kita Yang Terbaik Bukan Yang Lain”.


Kontributor :  Ags

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Menghilangkan Arogansi Kekuasaan Di Lembaga Sekolah! Begini Caranya

Iklan