terkini

Iklan Podcast

Cerpen - Dari Paska Ke Penjara

Lidinews
Sabtu, 2/29/2020 08:47:00 PM WIB Last Updated 2023-02-11T03:56:43Z

Dari Paska Ke Penjara
Oleh : Arjuna Herianto Tri Mayldo Munthe

Hijau pepohonan menghiasi serta membuat udara segar di salah satu desa yang yang terkenal dengan keindahan Alamnya. Paska adalah sebuah nama yang disamatkan kepada desa tersebut dengan segala keindahan. Masyarakatnya hidup rukun dan damai, interaksi sesama penduduk disana sangat terbangun harmonis. Termasuk juga salah satu pemuda yang mempunyai jiwa sosial tinggi serta mempunyai usaha budidaya cabai, yakni Mayldo. Tidak ada catatan dalam kehidupan sehari-harinya yang hanya diisi dengan hal-hal hedonism, hampir sebagian besar aktifitasnya diisi dengan hal-hal yang bermanfaat baik bagi dirinya sendiri ataupun orang lain.

Selain terkenal dengan usaha budidaya cabai, Mayldo juga terkenal sebagai anak yang berbakti kepada orang tuanya, tangan diatas (memberi) juga menjadi identitasnya di kampung tersebut. Berbagai usaha dia lakukan untuk saling menolong dan saling memberi terhadap penduduk miskin di desa tersebut.
Suatu hari Mayldo berniat untuk memberikan bantuan kepada orang-orang miskin yang ada disana. Langkah awal yang ia lakukan adalah berkeliling keseluruh pelosok desa untuk mengetahui siapa saja yang layak untuk diberi bantuan. Mulailah ia menjelajahi desa untuk mendata orang-orang tersebut.
Sudah memasuki hari ketiga dia mengelilingi desa, ada sekitar 40-an orang miskin yang ditemui Mayldo. Setelah selesai mendata orang miskin di Desa Paska tersebut, dia pun membuat pengumuman untuk mengadakan perkumpulan bagi kaum miskin di Pondok Erdilocaf yang terletak di desa sebelah. Orang desa yang mendengar pengumuman yang dibuat oleh Mayldo itu sangat bahagia, karena melihat sosok dermawan dari kalangan pemuda terdapat di Desa Paska.
Pada hari yang telah ditetapkan, perkumpulan pun diselenggarakan. Dia sebagai pelopor sekaligus penggerak mengumpulkan orang miskin tersebut mendapat apresiasi dari penduduk setempat. Dalam perkumpulan itu dia mengumumkan bahwa tidak akan lama lagi dia akan memberikan sebuah santunan terhadap orang miskin yang ada di desanya itu. Orang miskin yang mendapat kabar gembira tersebut senang luar biasa menanti hari yang dimaksud Mayldo. Setelah perkumpulan serta pemberian kabar akan adanya santunan kaum miskin selesai, Mayldo pun memberi jamuan terhadap orang miskin tersebut.
Selesainya acara menjamu itu, Mayldo kemudian mempersilahkan para undangan untuk pulang kekediaman masing-masing dengan rasa gembira. Namun niat baik seseorang kadang tidak berjalan dengan mulus, ada sebagian penduduk desa yang menganggap Mayldo sebagai orang yang mencari perhatian, ada yang iri terhadap Mayldo serta ada yang berniat untuk mencelakakan Mayldo, salah satunya adalah Pais.
* * *
Pais adalah orang terkaya di Desa Paska, hanya saja Pais memiliki sifat dengki pendendam dan sombong. Melihat Mayldo menjadi sorotan penduduk desa Pais menjadi iri, Pais pun mengatur siasat untuk menjelek-jelekkan Mayldo serta menjatuhkan nama baik Mayldo. Langkah pertama yang dia lakukan adalah dengan menfitnah Mayldo sebagai orang yang melakukan pesugihan melalui usaha budidaya cabainya itu. Stigma penduduk Desa Paska pun mulai terbentuk, tetapi hanya sebagian besar yang percaya terhadap pembicaraan yang dibuat oleh Pais.
Disisi lain, hari pelaksanaan pemberian bantuan kepada orang miskin pun sudah tiba. Mayldo kembali mengumpulkan orang miskin di Pondok Erdilocaf itu dengan membawa barang-barang yang hendak dijadikan santunan. Sorak gembira dari orang miskin mulai terdengar, satu persatu dari orang miskin yang berhasil Mayldo kumpulkan dipanggil untuk menerima santunan. Mereka semua sangat bahagia.
“Terima kasih nak Mayldo” ucap Marianti salah satu janda tua serta miskin di Desa Paska “tanpa adanya nak Mayldo, saya sangat kesusahan untuk mencari sesuap nasi” tambah Marianti.
Mayldo pun terharu mendengar ucapan terimakasih dari janda tua tersebut sembari berkata “iya buk sama-sama semoga rezeki saya tetap lancar dan saya bisa berbuat baik lagi dikemudian hari” ucap Mayldo.
Setelah semua sembako selesai dibagikan, Mayldo pun berkata sekaligus berharap di depan puluhan orang miskin itu.
“Saudara-saudara saya semuanya, semoga apa yang telah saya berikan kepada bapak ibu semua menjadi hal yang bermanfaat. Dan semoga rezeki saya ataupun rezeki bapak ibu semua dilancarkan oleh Tuhan. Suatu hari nanti jika saya mampu saya akan mengadakan perkumpulan lagi dan memberikan bahan-bahan sembako yang mungkin dapat bermanfaat bagi bapak ibu sekalian.”
Para orang miskin yang dikumpulkan Mayldo pun mengamini harapan Mayldo, salah satu kakek yang ada di perkumpulan itu pun ada yang melantangkan doa dengan sangat keras.
“Ya Tuhan semoga anak muda ini (Mayldo) dilimpahkan rezekinya serta diberi kesehatan dan umur yang panjang. Hamba bersedia menjadi saksi bahwa anak muda ini sangat baik dan suka menolong” mendengar doa yang di panjatkan orang tua tersebut tanpa tersadar air mata Mayldo menetes bahagia. Dia sangat berharap hidupnya dapat bermanfaat kepada orang lain.
Di sisi lain Pais yang mendengar Mayldo telah memberi bantuan kepada orang miskin serta mendapat pandangan baik menjadi semakin benci. Pais pun berusaha mencemari nama baik Mayldo, salah satu upaya yang dilakukan Pais adalah dengan menipu Mayldo seakan-akan menjadi pencuri.
Suatu hari, Mayldo kembali berkeliling di Desa Paska secara kebetulan Mayldo pun melewati kawasan rumah Pais. Melihat Mayldo hendak melintasi kawasan rumah Pais, Pais pun mengkelabuhi Mayldo dengan meletakkan dompet miliknya di jalan depan rumahnya agar diambil oleh Mayldo. Dari kejauhan Pais mengamati Mayldo sembari berharap Mayldo mengambil dompet Pais tersebut.
Ternyata benar ketika Mayldo melintas di depan rumah Pais, Ia melihat dompet tergeletak di jalan dia pun mengambilnya dan melihat isi dompet itu ternyata ada uang tunai sebesar Rp. 200.000. Melihat dompet tersebut tanpa identitas Mayldo pun beranjak untuk pergi ke rumah ibadah untuk mengumumkan siapa gerangan yang kehilangan dompet. Kemudian, sebelum sampai di rumah ibadah Mayldo bertemu dengan fakir miskin di jalan yang tidak jauh dengan rumah Pais. Melihat orang miskin tersebut Mayldo pun berniat untuk menolongnya, namun dia teringat bahwa dia tidak membawa uang sama sekali kecuali dompet yang ia temukan di tengah jalan itu.
Tanpa pikir panjang, Mayldo pun memberikan uang yang dia temui tadi. Mayldo tidak jadi pergi ke rumah ibadah, melainkan dia berencana pulang kerumah untuk mengganti uang yang dia temukan itu terlebih dahulu sebelum memberi pengumuman. Namun Pais yang sejak tadi membuntuti Mayldo,  merasa berhasil mengelabuinya. Pais pun mengajak beberapa warga untuk datang ke rumah Mayldo dengan niat menuduh Mayldo sebagai pencuri. Hampir bersamaan antara sampainya Mayldo ke rumahnya dengan kedatangan Pais dengan beberapa orang itu.
“Wah.. rupanya begini kelakuan sang pahlawan desa yang membantu orang miskin, Aku juga bisa membantu orang miskin kalau dengan cara mencuri” kata salah satu orangnya Pais. Mendengar ucapan itu Mayldo terkejut dan bertanya.
“Sebentar mas, kira-kira ada apa ya?” Tanya Mayldo kebingungan.
“Sudahlah kamu jangan pura-pura tidak tau” ucap orangnya Pais. “kamu mencuri uangnya Pais kan?” tambahnya.
“iya betul bapak-bapak, dia mencuri uang saya. kalau tidak percaya periksa dia” kata pak Pais.
Orang-orang bawaan Pais pun memeriksa semua saku ataupun tas milik Mayldo, dan menemukan satu dompet berwarna coklat.
“Apakah ini dompet bapak” kata salah satu orangnya Pais.
“iya betul dompet saya” jawab Pais.
Orang tersebut pun memberikan dompet itu kepada Pais. Ketika Pais mengeceknya, ternyata uang Rp. 200.000 miliknya tidak ada lagi. “Ini uang saya sudah tidak ada di dompet” kata Pais. “Kalau begitu ini harus diselesaikan secara hukum.
“Pak, saya tidak tau jika dompet itu punya bapak. Saya menemukannya di jalan dan uangnya saya berikan kepada orang miskin yang saya temui di jalan” kata Mayldo membela.
“Sudahlah kamu tidak usah banyak alasan” kata Pais “ayo bawa dia ke kantor polisi, biar polisi yang menanganinya” lanjut Pais.
Mayldo tidak bisa membela diri di depan orang-orang itu, dia hanya berharap polisi berpihak padanya. Sesampainya di kantor polisi Pais kembali menyusun argumen agar Mayldo terlihat benar-benar bersalah. Pais pun melapor dengan membawa barang bukti (dompet) bahwa Mayldo telah melakukan pencurian terhadap dirinya.
* * *
Dibantu dengan orang-orangnya itu, polisi mempercayai laporan Pais dan menetapkan hukuman kepada Mayldo. Mendengar putusan hukuman dari polisi, Mayldo tidak bisa berpikir jernih. Kemudian, karena Mayldo begitu panik dan tidak ada pengacara, diapun dimasukkan ke dalam penjara. Berita tentang kasus pencurian Mayldo pun ditulis di berbagai media, baik cetak atau pun elektronik.
Sementara penduduk desa tempat tinggal Mayldo tidak ada yang mengetahui tentang kasus pencurian itu. Selama di penjara Mayldo hanya bisa meratapi nasib. Sempat ia berpikir bahwa tidak gampang untuk menjadi orang baik. Masa-masa kehidupan di desa menghampirinya. Mayldo mulai mengingat orang miskin di desanya, dia pun bertanya-tanya bagaimana keadaan orang miskin yang ada di Pondok Erdilocaf itu. Dia sangat bersedih karena kehidupannnya di penjara tidak bermanfaat kepada orang lain.
Seiring berjalannya waktu, penduduk warga tempat lahir Mayldo mulai bertanya-tanya karena sudah beberapa hari tidak melihat Mayldo. Satu persatu penduduk desa mulai bertanya-tanya kemanakah perginya Mayldo. Disatu waktu, salah satu warga Desa Paska mendengar berita bahwa Mayldo sedang berada di penjara. Warga yang mendengar kabar tersebut pun terkejut, mana mungkin sosok baik seperti Mayldo mencuri.
Sejak itu pula warga berusaha mencari informasi terkait kronologi penangkapan Mayldo. Hingga mereka menemukan informasi bahwa hal yang melatar belakangi masuknya Mayldo kepenjara adalah karena Mayldo menemukan dompet. Kemudian uang dari dompet tersebut diberikan kepada orang miskin.
Mendapat informasi tersebut warga menganggap fenomena itu tidak sengaja. Akhirnya warga pun menyepakati untuk menjemput Mayldo ke penjara dengan cara mengumpulkan massa. Sebagian besar penduduk Desa Paska berkumpul untuk menjemput Mayldo. Daud Frenanch sebagai pemimpin aksi memandu semua warga untuk mendatangi kantor polisi dan meminta Mayldo untuk dibebaskan, karena warga percaya bahwa penemuan dompet itu bukanlah suatu kejadian yang disengaja.
Sesampainya di depan kantor polisi, Daud Frenanch menemui polisi dengan membawa bukti-bukti bahwa Mayldo tidak bersalah. Perdebatan dan pertukaran argumen antara Daud Frenanch dengan salah satu polisi pun terjadi. Karena bukti-bukti yang dibawakan Daud Frenanch serta dibantu dengan dukungan para warga, polisi pun mulai percaya bahwa Mayldo tidak bersalah serta hukuman terhadap Mayldo dicabut. Polisi pun memanggil Mayldo untuk keluar dari penjara.
Mendengar tentang kebebasannya, Mayldo pun bahagia ditambah lagi mengetahui bahwa yang berusaha membebaskan Mayldo dari penjara adalah orang-orang miskin yang dulunya sempat dia bantu, yaitu warga Desa Paska. Mayldo sangat bahagia bahwa penduduk desanya sangat peduli terhadap dirinya. Diapun pulang bersama warga dan kembali melakukan aktifitasnya. Sejak itu, semangat Mayldo meningkat untuk mengabdi kepada masyarakat Desa Paska.
“Bagaimana mungkin Aku tidak merindukan keluarga besarku di desa tetangga, Desa Paska” gumam Mayldo sembari menyeruput kopi hitam seduhan sang pimpinan aksi, Daud Frenanch.
S E L E S A I
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Cerpen - Dari Paska Ke Penjara

Iklan