terkini

Iklan Podcast

Sahabat Dibalik Absen Taktik Meja Panjang Putin

Lidinews
Minggu, 7/03/2022 10:03:00 PM WIB Last Updated 2022-07-03T15:03:24Z
Penulis : Faris Hilaal Firaas.
Mahasiswa Semester 2 Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang.

Dalam tatanan dunia, peperangan tidak terelakkan dan bisa terjadi suatu saat. Terdapat banyak sebab terjadinya suatu peperangan, dilakukan karena merasa terancam dan sebagai bentuk balance of power akan suatu kepentingan yang tidak tercapai secara diplomasi oleh karena itu peperangan diambil sebagai keputusan yang dianggap tepat.

Lidinews.id - Negara yang terlibat dalam suatu peperangan baik yang menyerang ataupun diserang harus menghadapinya, jika tidak kekuatan dan kepentingan negaranya akan hilang dan berhasil nihil.

Disisi lain, peperangan yang terjadi tidak hanya berdampak besar terhadap negara yang terlibat, melainkan melulu berdampak buruk terhadap negara-negara lain di tatanan dunia, contohnya seperti kasus Rusia-Ukraina yang memperburuk krisis pangan di negara ketiga dan tidak berkembang.
Beberapa hari terakhir, presiden Jokowi melakukan pertemuan dengan kedua presiden negara konflik, dilakukan sebagai suatu bentuk upaya menjembatani dan menargetkan solusi krisis pangan selama misi perdamaian Rusia-Ukraina. Sorotan pertemuan Jokowi-Putin menuai kontroversial karena Putin tidak menggubris seruan damai jokowi, Putin cenderung lebih membahas hubungan bilateral Indonesia-Rusia dan Rusia masih menyerang Ukraina usai pertemuannya dengan Jokowi, lantas apakah Jokowi gagal membungkus misi perdamaian Rusia-Ukraina?
Dalam beberapa pertemuan, Putin acap kali menggunakan long table diplomacy dalam pertemuan bilateralnya, dengan alasan untuk membuat tamu merasa tidak nyaman dan menjaga jarak. Meja panjang dalam pertemuan Rusia-Prancis memisahkan Macron dan Putin atas laporan Macron karena ketakutannya tentang mata-mata Rusia melalui Tes PCR.
Siaran kabar pertemuan Jokowi-Putin yang absen dari meja panjangnya memperlihatkan bahwa pertemuan bilateral jokowi disambut dengan hangat dan tidak rumit. Meskipun Putin tak gubris seruan damai Jokowi dan lebih memilih untuk membahas lebih lanjut terkait hubungan bilateral Indonesia-Rusia, tindakan Jokowi menuai dampak positif dalam memenuhi permintaan yang dibutuhkan dunia dan kepentingan Indonesia sendiri.
Misi presiden Jokowi dapat diasumsikan berhasil, mengutip penilaian dari Dino Patti Djalal, pakar hubungan internasional dan sekaligus mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI. "Upaya Presiden Jokowi tidak gagal. Ini awal yang baik. Kita harus peka terhadap tantangan ke depan" Dilansir dari detikcom.
Keberhasilan dan kegagalan misi Jokowi terbukti bilamana dilihat dari dua indikator. Pertama, apabila Rusia dan Ukraina melakukan pertemuan serius dalam perundingan politik yang kemudian bermuara pada perdamaian, misi Jokowi berhasil. Perdamaian dari keduanya tidak mustahil untuk terjadi di suatu hari nanti. 
Kedua, Jokowi menargetkan solusi terkait krisis pangan selama misi perdamaian Rusia-Ukraina. Dengan dibukanya ekspor Gandum Ukraina dan pupuk Rusia beserta bahan pokok lainnya merupakan tanda-tanda dari terwujudnya koridor pangan. Wajar apabila masih belum terlihat tanda-tanda perdamaian dari Rusia, karena keinginan Rusia menaklukkan Ukraina sebagai balance of power belum sepenuhnya tercapai. 
Sebagai negara berkembang, wajar apabila Putin menganggap Indonesia sebagai sahabat bagi negaranya, tidak hanya didasari dengan alasan historis karena pengaruh kuat Ir. Soekarno, Indonesia dalam taktik meja panjangnya tidak cukup kuat untuk menggempur dan mengancam balance of power dari Rusia dalam panggung politik global.
Sebab-sebab yang membuat Indonesia dianggap sebagai sahabat Rusia dapat dilihat dari beberapa indikator. Pertama yaitu alasan psikologis, dalam pendekatan motivasional, pada dasarnya suatu negara memiliki sifat yang sama seperti manusia, sejak lahir manusia memiliki sifat agresif secara natural dalam diri manusia, yang mana secara motivasional untung-rugi dalam persahabatan Rusia-Indonesia cenderung menguntungkan, oleh karena itu keputusan untuk menjadikan Indonesia sebagai negara sahabat diambil oleh Putin. 
Kedua, yaitu alasan ekonomi, sebagai negara berkembang, Rusia berasumsi bahwa kebutuhan Indonesia terhadap Rusia terjalin dalam kolaborasi yang bersih dari eksploitasi yang mampu merugikan Rusia. 
Ketiga, alasan politik. Secara historis, Indonesia memiliki track record kepemerintahan yang efektif dan kuat, dari zaman Soekarno hingga saat ini, Indonesia tidak pernah mengalami keanarkisan yang krusial, sehingga perlu untuk mempertahankan dan membentuk aliansi atas dasar kepentingan yang sama. 
Yang terakhir adalah alasan perspektif ekonomi politik, negara demokrasi dinilai lebih berhati-hati dalam mengambil suatu keputusan, dalam intervensi Indonesia dengan seruan damai terhadap Rusia-Ukraina, Putin menyinggung Indonesia untuk tidak terlalu menyuarakan perdamaian negaranya dan Ukraina. Putin memahami i’tikad dan keputusan Indonesia didasari dengan kehati-hatian dan berdasarkan kepentingan dunia. Karena dengan semakin terjalinnya hubungan bilateral Indonesia-Rusia lambat laun dapat mengatasi krisi pangan yang disebabkan oleh konflik Rusia-Ukraina.
Perkataan Dino benar, kita harus peka melihat tantangan ke depan, konflik yang terjadi pada suatu negara merupakan suatu tantangan yang harus dihadapi oleh semua negara, Jokowi cukup berani dan tegas dalam mengambil keputusan. Misi Jokowi perlu diapresiasi karena suatu peperangan masih bersifat potensial, tidak dapat dipungkiri dan diseka. Mencegah peperangan mengharuskan suatu negara untuk menyiasati perdamaian. Apabila perang sudah terlanjur dan terjadi, misi perdamaian harus ditegakkan, pertikaian akan surut.
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Sahabat Dibalik Absen Taktik Meja Panjang Putin

Iklan