terkini

Iklan Podcast

So Adu Dalam Hamparan Semesta

Lidinews
Selasa, 11/21/2023 11:46:00 AM WIB Last Updated 2023-11-21T04:46:26Z
Gambar : So Adu Dalam Hamparan Semesta
 Lidimews.id

Lidinews.id - Hujan di awal November sudah memberikan sinyal kepada semesta, bahwa saatnya mereka akan membasahi bumi. Memberi kehidupan pada bulir-bulir benih agar tumbuh menghijaukan tanah yang beberapa bulan sebelumnya dipanggang matahari.


Sebagaimana di So Adu (hamparan persawahan Adu) yang menghubungkan beberapa desa di wilayah selatan Dompu. Sebuah wilayah yang dulu dikenal dengan sebutan Do Ompu.


Dimana sejarah mencatat wilayah selatan ini, memiliki barisan kisah historis yang kini masih dituturkan oleh masyarakatnya.


Gambar : So Adu Dalam Hamparan Semesta. Lidinews.id


So Adu merupakan lahan pertanian tadah hujan. Hamparan persawahan sejauh mata memandang ini, digarap oleh puluhan petani yang menghasilkan puluhan ton gabah setiap tahunnya.


Hasil pertanian dari So Adu ini tidak hanya dinikmati masyarakat setempat, namun juga dikirim keluar daerah untuk masyarakat lain di luar sana.


Di So Adu, saat ini, Sabtu, 18 November 2023 lahannya masih nampak kosong. Masih menyisakan hasil pertanian sebelumnya. Beberapa petak sawah nampak sisa penanaman bawang masih bisa terlihat jelas.


Dan informasinya, ini pernah digarap oleh orang dari Bima dengan cara lelang untuk satu kali tanam. Dan hal ini umum dilakukan warga yang punya tanah usai memanen padi.


Gambar : So Adu Dalam Hamparan Semesta. Lidinews.id

Umumnya di masyarakat Do Ompu ini memiliki beberapa istilah dalam urusan pertanian: Ada pola pertama, pola kedua dan pola ke tiga.


Pola pertama maksudnya, ketika usai panen padi, masyarakat biasanya masih memanfaatkan lahan pertanian untuk menanam palawija seperti kedelai, jagung dan bawang.


Hanya saja tanaman ini akan ditanam warga dengan melihat kondisi air yang tersedia. 


Jadi ketika air masih mengairi parit-parit persawahan, maka masyarakat masih bisa memanfaatkan lahan pertaniannya.


Namun tidak sedikit masyarakat melakukan proses pemboran agar suplai air pada tanamanmya tetap terjaga. Hal yang sama dilakukan pada pola tanam kedua dan ketiga.


Jika air dari hasil pemboran dan air di sungai masih cukup tersedia maka masyarakat tetap akan memilih untuk menggarap sawahnya. 


Namun untuk pola ketiga, biasanya hanya sedikit masyarakat yang masih melakukan garapan untuk menanam.


Karena sebagiannya lebih memilih lahannya dibiarkan tanpa tanaman apa pun sembari menunggu turunnya hujan seperti bulan November ini untuk ditanami padi.


Sembari menunggu konsisten hujan turun membasahi bumi, hamparan persawahan di So Adu masih kosong melompong. Ternak warga dilepas begitu saja di hamparan persawahan ini. Sapi bebas berkeliaran tanpa ada pengawasan dari tuannya.


Dibiarkan bebas ke sana ke mari. Namun sesekali akan dipantau dan dilihat pemiliknya. Memastikan keberadaanya. Dulu hanya kerbau yang berkeliaran seperti ini, namun sekarang sudah tergantikan dengan sapi.


Di So Adu sudah dibangunkan jalan untuk memudahkan warga agar terhubung dengan warga di desa yang lain. Baru-baru ini diaspal. Dicor bagian pinggirnya.


Dijadikan tempat joging sore-sore bagi anak-anak muda dan remaja desa. Berselfie saat senja temaram menyapu dan menyapu semesta. Duduk dibarugak di pinggir jalan sembari membagikan momen itu ke beranda media sosial.


Gambar : So Adu Dalam Hamparan Semesta. Lidinews.id


Di So Adu belum ada bangunan perumahan yang menghalangi pemandangan. Namun di beberapa petak sawah sudah ada tumpukan batu.


Nampaknya mulai ada tanda-tanda tidak lama lagi akan ada rumah dan ruko yang akan dibangun di pinggir jalan ini. Sebuah jalan alternatif yang menghubungkan Desa Rasabou dan Desa Cempi Jaya. 


Sore biasanya terlihat ramai. Masih sampai sekarang pasca jalan ini diaspal dan dicor beberapa bulan yang lalu. Selain itu, jalan ini memudahkan hasil pertanian warga untuk diangkut keluar.


Karena sebelum ada jalan, warga cukup kesulitan membawa hasil pertaniannya. Sekarang banyak pihak yang senang. Senang karena jalan ini sudah diperbaiki sebagaimana harapan banyak pihak. 


Tapi adakah yang tahu kenapa lahan persawahan yang luas ini diberi nama So Adu. Sementara Desa Adu sendiri berada jauh dari lahan yang disebutkan.




Editor : Arjuna H T M




So Adu Dalam Hamparan Semesta

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • So Adu Dalam Hamparan Semesta

Iklan