terkini

Iklan Podcast

Polemik Tambang; Eks Aktivis Seranjang Dengan Kekuasaan, Sajak Tajam Ditelan Rupiah

Lidinews
Senin, 7/13/2020 06:41:00 PM WIB Last Updated 2023-02-11T03:43:14Z


Oleh : Acik Wesa (WK Bidang Kajian Ilmiah DPC GMNI Makassar) 

Sulsel, Makassar, LidiNews.com - Hormat bagimu para pendahulu yang telah berjuang memerdekakan bangsa Indonesia dari jeratan kolonialisme. Hormat pula bagimu para pejuang yang sudah berjuang melawan otoritarianisme bangsa sendiri. Darah juang, jiwa patriot kalian adalah api perlawanan bagi generasi bangsa yang sedang melawan penjajah dalam negeri.

Bung Karno, pemimpin besar revolusi pernah berkata "Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Tapi perjuanganmu lebih berat karena melawan saudara sendiri".

Kutipan kata kata dari sang proklamator mengingatkan saya pada catatan singkat sebagai bahan reflektif dua tahun silam. Isinya hanya menjawab satu pertanyaan. Benarkah hal itu terjadi?

Sesungguhnya hal demikian terjadi  karena saya sempat berpikir bahwa penjajah merupakan musuh/lawan terberat yang harus dilawan dengan segenap pikiran,tenaga bahkan jiwa dan raga sekalipun jadi tumbal. Dan lebih pentingnya lagi bahwa penjajah memiliki kekuatan super power dalam hal logistic dan instrumen perang namun bung Karno dan kawan kawan mampu memukul mundur dan pada akhirnya meraih kemerdekaan.

Hari ini, kita sedang diperhadapkan dengan situasi yang disampaikan oleh Bung Karno. Bangsa Indonesia sejatinya telah merdeka dari penjajahan kolonialisme, namun begitu banyak hal yang menampilkan bahwa sesungguhnya kita (bangsa Indonesia) masih dalam kungkungan belenggu ketidakmerdekaan dalam hal ketidakadilan (okonomi, sosial, dan politik).

Begitu banyak kebijakan yang diterapkan oleh pemangku kebijakan hari ini yang jauh dari harapan rakyat sesuai amanat UUD 1945 dan Nilai luhur Pancasila. Dan pelaku pelaku tersebut sejatinya ialah anak kandung bangsa sendiri. Kemiskinan dimana mana, ketimpangan sosial (hukum, ekonomi) merebak masyarakat kecil.

Dari sekian banyak polemik yang di Indonesia, ada satu polemik lokal yang sedang tranding topik nasional sekarang. Ialah polemik rencana aktivitas tambang. Terutama polemik tambang yang ada di Lingko Lolok Kabupaten Manggarai Timur, NTT. Polemik ini mendulang pro dan kontra di kalangan publik Nusantara (akademisi, aktivis mahasiswa, LSM, dan Juga pegiat ekologi dari kalangan Gereja).

Para aktivis hari ini sedang gencar dan geramnya melakukan penolakan atas wacana tambang yang akan hadir di Lingko lolok, Manggarai Timur. Banyak hal yang memicu hadirnya tambang ini, terutama persoalan hukum dan analisis dampak lingkungan.

Para aktivis mahasiswa di setiap kota besar di Indonesia sedang gelora dalam menyuarakan penolakan. Kajian ilmiah dan pengalaman fakta empiris menjadi acuan dalam bergerak. Dan aksi mereka tak sedikit mendapat dukungan dari khalayak publik.

Namun, ada fakta menarik bahwa dibalik pergerakan yang dilakukan oleh para aktivis, begitu banyak kalangan yang mengutarakan pandangan negatif (nyinyir). Akan tetapi hal itu tidak menjadi persoalan karena hak berpendapat dari seseorang masih melekat selama Ia dan mereka menjadi warga negara Indonesia.

Namun, sangat disayangkan bahwa pernyataan miring pula lahir dari rahim sebagian eks aktivis yang dalam track recordnya sebagai kritikus ulung pada masanya. Kata tajam untuk melindungi oligarki lahir dari rahim mereka sekarang.

Dahulu, mereka mengedepankan idealisme sebagai tameng Perjuangan dalam membela hak rakyat. Sajak tajam dijadikan senjata dalam melawan para tirani. Namun, sajak itu seakan serempak istrahat dan membalikkan moncong senjatanya kepada para aktivis yang sedang berjuang.

Mengapa eks aktivis berprilaku demikian? Mengapa mereka jadi tameng taipan dan birokrasi?

Sederhana saja bahwa dua pasangan atau lebih ketika berada dalam satu ranjang maka kenikmatan duniawi menjadi poin nomor satu untuk memuaskan birahi ketamakan. Dugaan saya bahwa, sajak tajam para eks aktivis sudah ditelan oleh rupiah pasangan.

Eks aktivis seranjang dengan kekuasaan, maka waktunya para aktivis melawan belenggu penjajahan bangsa sendiri. Para aktivis akan melawan kawan dan saudara sendiri.

Perjuangan aktivis pun sukar karena melawan para elit jalanan yang mengetahui Medan tempur dengan masif dan baik. Mereka bak tameng yang super power yang tertakalahkan.

Benarlah kata bung Karno, generasi kita akan diperhadapkan dengan situasi perang melawan saudara sendiri. Mereka bukan lagi kawan sejalan namun mereka berbalik arah jadi tameng kekuasaan karena kekuatan materialistik lebih besar dari nilai luhur perjuangan ''idealisme".

Ahli strategi perang Tiongkok, Sun Tzu,"Kenali dirimu, kenali musuhmu, dan kenali Medan tempurmu. Dan kau akan memenangi seribu pertempuran"

Hari ini, kita sudah mengetahui bahwa lawan terberat aktivis sejatinya bukan penguasa, akan tetapi lawan terberat aktivis ialah eks aktivis yang sudah seranjang dengan kekuasaan. Oleh karena itu, kutipan Sun Tzu setidaknya dijadikan kompas untuk meraih kemenangan dalam sebuah perjuangan. Lawanmu adalah eks kawanmu. Engkau sudah mengenalinya, raihlah medali kemenangan.
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Polemik Tambang; Eks Aktivis Seranjang Dengan Kekuasaan, Sajak Tajam Ditelan Rupiah

Iklan