terkini

Iklan Podcast

Problematika Truk Batu Bara dan Sejenisnya di Kawasan Mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri Jambi

Lidinews
Selasa, 10/11/2022 08:22:00 AM WIB Last Updated 2022-10-11T01:22:59Z
Penulis : Titin Martina Nurianti Simarmata, Mahasiswa Universitas Jambi, Program Studi Ilmu Politik.


Lidinews.id - Sampai tulisan ini diterbitkan, para mahasiswa di 2 Kampus Negeri di Provinsi Jambi yakni, Univeristas Jambi dan Universitas Islam Negeri Sultan Thaha Saifuddin (UIN STS) Jambi masih terus dibuat pusing, risau, sampai takut akan operasional truk angkutan batu bara yang melintas setiap harinya di daerah ramai mahasiswa dan masyarakat, Mendalo, Jambi.

Bukan tanpa alasan pasti, namun berkaca pada peristiwa yang telah terjadi. Sepanjang 2022 sudah banyak korban yang berjatuhan mulai dari luka ringan, luka berat, sampai meninggal dunia saat berkendara di jalanan, baik saat menuju kampus ataupun pulang dari kampus.

Jika sebagian orang mengatakan, 'tak adil bila hanya mendiskreditkan truk-truk angkutan batu bara dengan dalih bahwa kecelakaan juga dapat dipicu oleh kendaraan beroda 6 atau lebih lainnya seperti truk CPO, truk gandeng, truk trailer, hingga truk pertamina, atau bahkan diakibatkan oleh si Mahasiswa atau masyarakat yang kurang berhati-hari serta tidak menaati tata tertib dalam berkendara.' Saya berpikiran sah-sah saja sebenarnya.

Namun satu hal penting yang harus dipahami adalah kondisi sepanjang Jl. Lintas Jambi - Muara Bulian saat ini, saya melihat angkutan batu bara merupakan kendaraan yang meresahkan sekaligus menakutkan.

Alasannya sederhana yaitu jumlahnya yang begitu banyak dan operasionalnya yang tak kenal waktu.

Tentu dalam kondisi jalanan yang ramai atau bahkan padat, saya berpikir resiko atau kemungkinan terjadinya kecelakaan lalu lintas menjadi lebih tinggi. Ini merupakan persoalan krusial bagi Pemerintah Provinsi Jambi yang harus secepatnya dituntaskan oleh Pemerintah Provinsi Jambi.

Menurut saya, Gubernur Jambi Al Haris beserta seluruh jajarannya sekiranya harus memiliki terobosan atau jalan keluar teehadap permasalahan ini, jika tak mau didemo terus-terusan oleh mahasiswa Unja, UIN, atau bahkan masyarakat Jambi sendiri. 

Beberapa bulan lalu, pemberitaan di berbagai media sosial mengatakan bahwa Gubernur Jambi telah mengatur regulasi yang dinilai dapat menekan angka kemacetan atau kecelakaan di sepanjang Jl. Jambi - Bulian yang dipicu oleh truk batu bara. Salah satu kebijakannya tentu kita semua masih ingat, truk batu bara hanya diperlobehkan beroperasional pada 
pukul 18.00 - 06.00 WIB. 

Namun sebagaimana yang kita ketahui, kita lihat dan kita alami bersama ketika sedang di jalanan. Tak jarang dan tak sedikit armada batu bara yang melanggar kebijakan Gubernur Jambi itu. Pada intinya saya melihat kebijakan Gubernur terkait jam operasional truk batu bara, tetap saja tidak membuat sejumlah besar mahasiswa tenang. 

Persoalannya masih sama. Jika kecelakaan tidak ditimbulkan oleh truk batu bara, maka truk berat yang lain yang terlibat. Lalu apakah truk batu bara tak bisa dipersalahkan? Saya tidak akan menjawab iya begitu saja. Kawan-kawan saya pun berpikiran sama, seorang kawan bahkan berujar seperti ini.

 "Kalau truk batu bara saja yang dilarang tapi truk sejenis batubara (Truk trailer, CPO, Tronton, Cargo) masih bebas melintas dengan kearogannya ya sama aja. Kita yang mahasiswa ini kan ke sini bukan mau ngantar nyawa," ujar Eva salah seorang mahasiswa Universitas Jambi belum lama ini.

Akhirnya dengan semua polemik yang ditimbulkan oleh truk angkutan batu bara beserta truk-truk bertonase besar lainnnya yang sejenis atau diatasnya. Membuat saya beserta kawan-kawan saya selaku mahasiswa berfikir bahwa Pemerintah Provinsi Jambi masih kurang efisien dalam bersikap.

Itu terbukti dari bebasnya truk-truk sejenis truk batubara melintas, terlebih di kawasan kampus. Daerah dimana ada ribuan atau bahkan puluhan ribu mahasiswa beserta masyarakat sipil beraktivitas. Ya daerah ramai, yang idealnya kondisi lalu lintas bisa diatur sedemikian rupa untuk mencegah terjadinya kerugian atau nyawa yang terpaksa melayang.

Tak selesai-selesai rasanya jika meluapkan kekesalan, keresahan, dan emosi terkait truk-truk nakal yang melintas tanpa kenal jam operasional. Apalagi yang melintas tanpa kenal istilah Ngerem atau pelan-pelan di daerah Mahasiswa.

Namun, saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan pesan atau saran bagi para pemegang kekuasaan sekaligus kebijakan. Jalur khusus batu bara sangat dinanti-nantikan oleh Mahasiswa ataupun masyarakat di Mendalo. 

Namun, seharusnya selain membangun jalur khusus truk batu bara pemerintah juga harus tetap memperhatikan truk-truk sejenis truk batubara yang melintasi daerah Mahasiswa (Mendalo) apalagi dengan cara yang ugal-ugalan. Karena selain merugikan diri sang pengemudi, juga tentu menimbulkan rasa was was serta potensial terhadap kecelakaan lalu lintas.

Pada intinya, saya ingin menyampaikan. Sudah terlalu banyak korban lalu lintas di sepanjang jalur Mahasiswa atau Jalur Mendalo. Bagi kawan-kawan mahasiswa, tetap hati-hati dalam berkendara. Dan harapan besar bagi pemerintah Provinsi, DPRD Provinsi Jambi agar benar-benar bisa membuat terobosan terkait permasalahan angkutan batu bara dan sejenisnya yang amat meresahkan mahasiswa 2 kampus negeri terbesar di Provinsi Jambi.
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Problematika Truk Batu Bara dan Sejenisnya di Kawasan Mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri Jambi

Iklan