terkini

Iklan Film

Shooting Film Layar Lebar perik sidua-dua Gelombang 3. Membingkai Peluang Dari Tebing dan Jurang

Lidinews
Selasa, 8/22/2023 01:36:00 PM WIB Last Updated 2023-10-10T20:32:08Z

Gambar : Shooting Film Layar Lebar perik sidua-dua Gelombang 3. Membingkai Peluang Dari Tebing dan Jurang. Lidinews.id


Bila takut berlari, jangan sekali pun bermimpi memiliki kaki. Begitu pula bila tak bernyali melintasi tebing dan jurang, jangan pernah berimajinasi berdiri tegak di bentangan pegunungan.


Lidinews.id - Maka spirit Perik Sidua-dua tak dapat kita rasakan kehadirannya saat duduk atau pun melangkah. Alangkah baiknya kita bersama berada pada jalan menurun dan mendaki pada tikungan tajam meliuk-liuk.


Di sana kita bisa menikmati hembusan angin yang membawa  pada kisah-kisah Simbisa atau Guru Penawar yang mengolah rempah.


Beberapa kali turun naik, berdiam, meluncur dan melesat lagi seperti grafik yang membentuk berbagai bangun ruang dan sudut pandang, perjalanan terus berlanjut.


Pada Sabtu dan Minggu/ 19 dan 20 Agustus 2023, Shooting Gelombang 3 pun dihelat di lima lokasi:

1. Deleng Singkut.

2. Ria Foodcourt Berastagi.

3. Kafe Juma, Desa Kandibata, dekat Kineppen, Jl. Rakoetta Brahmana Km. 12.

4.  Villa Tebu Manis Berastagi.

5. Kafe Sarune Kecamatan Simpang Empat.


Kalau kita tarik ke belakang, jarak antara Proses

Casting dan Coaching (30 Desember 2022-15 Mei 2023),

Tour The Karo Volcano Park (30 Desember 2022- 30 Maret 2023),

Konferensi Pers (1 Juni 2023),

Shooting Film Gelombang 1 (2-4 Juni 2023),

Shooting Film Gelombang 2 (15-17 Juni 2023) dengan

Shooting Gelombang 3 (19-20 Agustus 2023).


Terpampang grafik proses penciptaan yang membutuhkan spirit para Perlanja Sira. Sebuah kesadaran untuk berkolaborasi energi, kesabaran, kesetiaan, mental yang kuat, cinta, kesiapan lahir batin proses perjalanan.


Dalam proses ini; datang, pergi dan bertahan menjadi sebuah keniscayaan. Ada yang tersisih, ada yang menyisihkan diri, ada yang mundur, ada yang menolak berjalan sesuai jalur yang ditentukan, ada yang hadir belakangan masuk barisan. Pergumulan yang membentuk tim saling menguatkan.


Dalam perjalanan, ada beberapa agenda yang kita kelola untuk menemukan tim yang solid dan bersama-sama mencapai tujuan sampai akhir.


Sebelum proses Shooting dimulai,  kita menguji kesatupaduan tim dengan Produksi Film Pendek Puteri Hijau, 18-20 Mei 2023 didukung penuh Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Karo.


Setelah kita mengevaluasi hasil Shooting Gelombang 1 dan 2 dari segala sisi, ada yang harus kita kuatkan kembali.


Maka kita memfokuskan agenda Camping Coach Aktor dan Aktris Film di Perimbana Rest Area, Desa Paribun Kecamatan Barusjahe untuk bisa menampilkan Sinematografi Teater Perik Sidua-dua dalam Festival Bunga dan Buah di Taman Mejuah-juah Berastagi, 7-9 Juli 2023, lalu Even Merdang Merdem Kuta Medan, 26-27 Juli 2023, Sinema Keliling dan Workshop Film di Festival Film Bulanan Lokus 6, 28-30 Juli 2023 yang kesemuanya kita kelola sebagai bekal untuk memperkuat pengetahuan, keterampilan, pengalaman dan kesolidan tim.


Kombinasi belajar sambil bekerja yang intens. Proses yang terjadi dari Juni sampai Juli kami sebut sebagai Simulasi Produksi Film Perik Sidua-dua.


Setelah Jilena dan Max berpadu, perjalanan Produksi Film Perik Sidua-dua pun semakin kencang mencapai puncak Volcano Park.


Lompatan-lompatan besar menundukkan tebing dan menyeberangi jurang intens dipacu. Sebuah Upaya yang mengkolaborasikan potensi spiritual, fisikal dan intelektual dalam kerja-kerja kreatif.


Kali ini, kami membawa kita semua menyaksikan pertemuan dua insan berbeda bangsa, budaya dan cara bersikap di atas meja makan. Dua anak manusia yang tidak pernah sama cara pandang dan menciptakan persepsi ketika merespon objek-objek yang mereka temui.


Pertemuan ini akan menjelaskan kepada kita tentang makna Karo Volcano Park dalam kehidupan orang-orang hulu menata pikiran, sikap dan gaya bicara demi menjaga keharmonisan bentang alam hulu hilir di kehidupan manusia Sumatera.


Shooting Film Layar Lebar Perik Sidua-dua Gelombang 3  membuka sedikit tabir Jilena dan Max; sebuah perjalanan yang memanfaatkan kerasnya tebing dan curamnya jurang menjadi peluang dalam upaya menata masa depan dunia.


Yah, tidak muluk-muluk, tatanan masa depan dunia hanya bisa dikelola dengan kolaborasi berbagai perbedaan, kedamaian dan cinta. Tatanan itu bersumber dari hulu; merga silima, rakut sitelu, tutur siwaluh, perkaden kaden, sepuluh dua tambah sada.


Sosok Jilena menarik kita kembali pada peristiwa delapan bulan lalu. Pertemuan 75 Kontributor Film Perik Sidua-dua yang dihelat di Danau Toba Internasional Hotel, Jl. Imam Bonjol, Medan. Di sana kami menemukan Mutiara tersembunyi; sosok Perempuan yang memikat batin dan visi film ini. Perempuan Karo diaspora yang tetap membawa kampung beserta adat istiadatnya kemanapun melangkah. Dia adalah Hana Nelsri Kaban, seorang Lawyer Kurator.


Proses panjang pun dilaluinya untuk bertemu dengan Max agar genaplah Perik Sidua-dua sebagai kisah. Setelah tiga kali dipertemukan dengan lelaki yang berpotensi menjadi Max, akhirnya di kesempatan ke empat, lelaki dari Siantar bernama Ariel Lubis (aktor dan Jaka kota Medan 2019) resmi didaulat sebagai Max.


Proses memadukan dua sosok ini sebagai Perik Sidua-dua membutuhkan waktu satu bulan; digembleng setiap hari di The K Hotel,  Jl. Jamin Ginting, Medan.


Perpaduan Perik Sidua-dua dimulai dari Lokasi Wisata Deleng Singkut; jalur alternatif menuju Berastagi. Dari sini kita bisa menatap Gunung Barus, Sipiso-piso dan Sinabung dengan jelas. Kita juga bisa menatap kota Berastagi.


Keistimewaan lokasi ini, kita bisa menatap Gunung Sibayak dan hamparan Desa Semangat Gunung dan Doulu dari puncak Deleng Singkut. Di lokasi ini; Jilena meyakinkan Nande bahwa ia tidak akan meninggalkan tanah Karo walau sudah menikah dengan Max.


Sosok Nande diperankan Dr. Rahmenda Sembiring yang bertugas di Rumah Sakit Umum Kabanjahe dan memiliki Klinik di Simpang Lau Gendek, Jl. Kebun Bunga Desa Dolat Rayat. Di lokasi ini juga Jilena mensugesti dirinya sendiri untuk tidak ragu dalam mewujudkan kepercayaan orang-orang membangun usaha Travel.


Perjalanan Shooting Film Perik Sidua-dua dilanjutkan ke Ria Foodcourt Berastagi yang berada di bekas Bioskop Ria Berastagi, dikelola ibu Hartalina Sembiring.


Lokasi ini berada tepat di jantung kota Berastagi, dekat dengan Masjid Raya 1928 yang masih mempertahankan bentuk arsitektur awal. Setelah Jilena membawa Max menyaksikan prosesi adat pernikahan (kerja nereh empoh) dan Kerja nurun (simate-mate), ia pun membawa Max untuk mengenal lebih dekat suasana kota Berastagi.


Dari Ria Foodcourt, Jilena memperkenalkan pada Max bagaimana Masyarakat Karo diikat oleh tatanan ada istiadatnya. Dalam proses shooting di Ria Foodcourt menampilkan peran pendukung, seperti: Hartalina Sembiring, Rosani br Tarigan Penyanyi Karo Legendaris, Moses Pinem seniman Karo multitalen (pemain music, pencipta lagu, penyanyi dan perkolong-kolong), Murnita Kembaren warga Bandung asal Berastagi penggagas Ornamen Karo Indonesia yang aktif mengembangkan Industri Kreatif di Tanah Karo.


Selanjutnya kami bergerak ke Kafe Juma, Desa Kandibata, dekat Kineppen, Jl. Rakoetta Brahmana Km. 12 yang dikelola ibu Yashinta Bangun. Dari kafe ini kita bisa melihat panorama Gunung Sinabung lebih dekat.


Sambil menikmati penampilan live music yang diperankan Priska Prissilia br Bangun, Jilena menjelaskan kepada Max tentang falsafah Perik Sidua-dua dan Kerbau Sada Nioga; relasi sejajar yang ditopang keterikatan dan keterhubungan satu sama lain.


Di scene ini, Jilena juga mengenalkan Cerutu Tembakau Deli ke Max. Ibu Hartalina Sembiring memerankan tokoh pengisap cerutu.


Shooting selanjutnya digelar di salah satu Villa di Villa Tebu Manis, Berastagi milik ibu Hartalina Sembiring. Villa ini dijadikan rumah Jilena. Di sini Nande shock atas jodoh yang dipilih Jilena. Kami juga mengambil scene Jilena dan Max yang mengungkapkan ketertarikan dan keterikatan hati untuk saling mencintai.


Scene yang super romantic tanpa harus bersentuhan. Shooting Gelombang 3 Film Perik Sidua-dua ditutup di Kafe Sarune, Kecamatan Simpang Empat. Awal pertemuan Jilena dan Max dengan latar Gunung Sinabung yang mempesona.


Setelah semua  yang sudah dijalani sampai titik ini, tentu gelombang dinamika proses kreatif tidak berhenti. Dinamika itu akan terus bergerak sampai menghasilkan karya yang layak dinikmati dan dipertanggungjawabkan ke publik.


Pada intinya ada peluang yang dapat dibingkai dari tebing dan jurang selama perjalanan Shooting Gelombang 3 Film Perik Sidua-dua.


Sampai berjumpa di Shooting Film Layar Lebar Perik Sidua-dua Gelombang 4.

Mejuah-juah.







Editor : Arjuna H T M





Shooting Film Layar Lebar perik sidua-dua Gelombang 3. Membingkai Peluang Dari Tebing dan Jurang

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Shooting Film Layar Lebar perik sidua-dua Gelombang 3. Membingkai Peluang Dari Tebing dan Jurang

Iklan

Pasang Iklan Di Sini Close x Kode Iklan Di Sini Broo