terkini

Iklan Podcast

Kembali Ke Desa, Mulai Pembenahan Sumber Daya Untuk Kesejahteraan!

Lidinews
Jumat, 10/20/2023 06:51:00 AM WIB Last Updated 2023-10-23T18:04:55Z
Penulis : Arjuna Herianto Tri Mayldo Munthe
Sekretaris GMNI Tanah Karo

Gambar : Kembali Ke Desa, Mulai Pembenahan Sumber Daya Untuk Kesejahteraan! Lidinews.id


Menilik laju roda zaman yang berkembang pesat, tidak sedikit hal yang tergilas hingga hampir terlupakan. Saat ini, Indonesia akan menghadapi generasi kelima sebagai fase berikutnya dari standar telekomunikasi seluler melebihi standar 4G.


Lidinews.id - Generasi kelima dari teknologi seluler nirkabel, menawarkan kecepatan unggah dan unduh yang lebih tinggi, koneksi yang lebih konsisten, dan peningkatan kapasitas daripada jaringan sebelumnya.


5G jauh lebih cepat dan lebih andal daripada jaringan 4G yang populer saat ini dan berpotensi mengubah cara kita menggunakan internet untuk mengakses aplikasi, jejaring sosial, dan informasi.


Misalnya, teknologi seperti mobil berkemudi otomatis, aplikasi game canggih, dan media streaming langsung yang membutuhkan koneksi data berkecepatan tinggi. 


Permintaan akan akses internet, dikombinasikan dengan munculnya teknologi baru seperti kecerdasan buatan yang mendorong peningkatan besar-besaran dalam jumlah data yang dibuat.


Pembuatan data tumbuh secara eksponensial, dengan volume yang akan meningkat selama dekade mendatang.


Dengan kecepatan tinggi, kapasitas besar, dan latensi rendah, 5G dapat membantu mendukung dan menskalakan beberapa aplikasi, seperti kontrol lalu lintas yang terhubung ke cloud, drone, obrolan video, dan termasuk game.


Aplikasi 5G ini bahkan tidak terbatas, mulai dari pembayaran global, tanggap darurat hingga pendidikan jarak jauh dan tenaga kerja seluler. 5G memiliki potensi untuk mengubah dunia kerja, ekonomi global, dan kehidupan masyarakat. Yang sangat andal, akan mendapat manfaat besar dari konektivitas 5G.


Melatarbelakangi konektivitas 5G dan tantangan Bonus Demografi di Indonesia, saya berpadangan bahwa semakin jauh pula adat istiadat tertinggal. Manfaat Bonus Demografi, salah satu yang paling nyata bisa saja mengalami pertumbuhan ekonomi.


Terjadinya pertumbuhan atau peningkatan ekonomi dalam hal bonus demografi, karena peningkatan peluang tenaga kerja.


Dengan majunya bidang Ilmu pengetahuan serta teknologi, menjadi faktor pendorong mulai hilang nya kebudayaan tradisional pada generasi muda. Contohnya dapat menimbulkan kesenjangan sosial, memunculkan sifat individualisme, dan rentan terhadap kriminalitas dan konflik.


Jadi, sangat berkemungkinan untuk tersisih bahkan hilangnya warisan yang sangat berharga dari leluhur kita serta tidak ternilai harganya. Budaya.


Indonesia adalah negara yang mempunyai ragam budaya serta memiliki ratusan pulau dimana setiap pulau nya memiliki budaya nya sendiri.


Kebudayaan juga salah satu unsur penting untuk membentuk identitas bangsa.

Oleh karena itu, keanekaragaman bangsa ini sudah semestinya kita jaga dan kita lestarikan. L


Hari ini, kehidupan masyarakat juga semakin modern. Akan tetapi, semakin hilang pula kebudayaan tradisional kita. Bahkan budaya asli Indonesia terancam hilang.


Berbicara mengenai teknologi, di era digital saat ini, teknologi sangat berdampak besar bagi kehidupan dalam berbangsa dan bernegara.


Teknologi juga dapat meningkatkan kehidupan kita dan merupakan sarana komunikasi jarak jauh. Kecanggihan alat yang saat ini sudah dianggap sederhana itulah yang memungkinkan kita untuk melihat informasi dimana saja, kapan saja. Cukup memudahkan kita untuk berinteraksi satu sama lain.


Namun, sisi negatifnya generasi muda saat ini cenderung mengabaikan budaya sosial. Yang jauh semakin dekat dan yang dekat semakin jauh. Bagaimana tidak? Bahkan saat pertemuan - pertemuan keluarga saja, hampir tidak ada yang tidak menunduk kepala.


Fokus pada Gadget di hadapan masing - masing. Itu salah satu contoh dari banyaknya hal – hal sejenisnya yang sudah terjadi dalam kehidupan sehari – hari.


Generasi muda menjadi salah satu unsur masyarakat yang diharapkan mampu mempertahankan budaya lokal di tengah perkembangan globalisasi.


Oleh karena itu, diperlukan pertahanan dalam bidang sosial budaya. Setiap bangsa harus siap untuk terbuka dengan nilai - nilai budaya dari bangsa lain.


PERANTAU

Bekerja di luar dari daerah atau di kota-kota besar acap disebut sebagai perantau yang tak pernah pulang kampung, hanya dipandang sebelah mata oleh masyarakat desa asalnya.


Karena mereka tak bisa berbagi kisah kala musim Lebaran tiba. Saat para perantau bisa pulang, menempuh terjalnya perjalanan hingga kampung halamannya menjadi kemenangan yang tidak saja bagi diri perantau tapi telah menjadi kemenangan seluruh warga desa.


Bagi perantau yang berkantong tebal, mudik tidak menjadi masalah. Menjadi persoalan ketika sudah tahunan merantau tapi kesulitan biaya untuk pulang kampung. Maka kemudian, meskipun dengan cara pinjam dana secara online, pinjam kawan, pinjam di koperasi atau bank konvensional ditempuh, asal bisa kembali ke desa dan berkumpul keluarga raya.


Memang menjadi perantau itu tidak mudah. Perantau itu sudah pasti menjadi segenap tumpuan harapan.


Menjadi orang sukses, mapan, punya jabatan, memiliki usaha dan bisa menarik kerabatnya untuk bekerja di Kota, dan sebagainya. 


Pendeknya perantau itu saat mudik di kampung harus membawa perubahan bagi warga desa, memberi daya hidup bagi desa.   


Sedikitnya bisa menjadi mentor bagi kawan - kawan di desa agar memiliki mental baja dalam merintis usaha, optimistis, semangat dan tetap mencintai dan merasa memiliki desa.


Perubahan-perubahan itu adalah ragam nilai produktif, seperti dari individu ke gotong royong, konsumtif ke produktif, malas ke rajin, konvensional ke digital, dari buruh menjadi bos, sekaligus kebangkitan ekonomi desa, dan seterusnya.


Dalam hal ini, usia produktif merupakan oknum - oknum yang diharapkan mampu memberdayakan apa yang ada di desa untuk kemajuan desa. 


Salah satu yang menjadi kelemahan desa kita selama ini adalah miskinnya pengetahuan, miskinnya ketrampilan, nilai, sikap, dan teknologi. Itulah kemudian menjadi tugas dan kewajiban bagi orng - orang muda yang pulang kampung.


Membalok desa dari kemiskinan dan kemurungan menjadi desa yang berdikari harus berani mengambil keputusan untuk mengubah nasib serta masa depan.


Nampaknya desa bisa membuat semacam edaran imbauan dan atau ajakan kepada warga yang pulang kampung untuk lebih memahamu situasi dan kondisi kampung halaman. Dengan terjadinya hal ini, kaum - kaum muda akan lebih mudah memperkenalkan Sumber Daya Alam yang ada di desa tersebut.


Praktiknya, seluruh orang muda yang memiliki aktivitas sehari hari di luar dari desa atau di luar daerah, orang muda tersebut mampu mengajak orang orang yang ada di kota untuk berkunjung ke desa.


Selain itu, warga desa, khususnya kaum muda juga mesti diboboti agar Sumber Daya Manusia yang ada di setiap desa semakin meningkat.


Sering terjadi di beberapa daerah, bahwa indahnya alam yang dimiliki desa mengundang wisatawan untuk berkunjung. 


Namun, yang mejadi persoalan di beberapa daerah adalah bagaimana agar wisatawan yang berkunjung tidak ingin cepat cepat pulang?


Dengan kakayaan Sumber Daya Alam yang kita miliki, sudah saatnya pula lah kita meningkatkan Sumber Daya Manusia untuk memberdayakan kekayaan alam kita. Khususnha di setiap desa.


Mengingat Indonesia akan menghadapi Bonus Demografi, mengingat era globalisasi hari ini, sudah waktunya usia produktif membangun desa dengan memberdayakan kekayaan akan Sumber Daya Alam yang ada. Apalagi hari ini, sudah menuju 5G, generasi ke lima.


Kembali ke desa, bukan karena sakit tak tertahankan di Ibu Kota, melainkan rasa yang tumbuh untuk membangun desa.





Kembali Ke Desa, Mulai Pembenahan Sumber Daya Untuk Kesejahteraan!

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Kembali Ke Desa, Mulai Pembenahan Sumber Daya Untuk Kesejahteraan!

Iklan